Review: Hotel Gren Alia Jakarta, Ruang Aman Merayakan Perbedaan
![]() |
| Rumarasa Restaurant, Hotel Gren Alia Jakarta | Foto: Dokpri - Tambah Seporsi |
Minal 'Aidin wal-Fa'izinMinal bagi teman-teman yang merayakan. Selamat Hari Raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin, yaaa.
Jadi sebetulnya saya itu agama Protestan yang senang sekali dengan perayaan ibadah puasa ini. Paling sederhana sih karena akan ada momen di mana kudapan favorit, biji salak, mudah sekali ditemukan dan ada di mana-mana.
Selain itu, biasa di bulan-bulan puasa, selalu ada juga undangan iftar alias berbuka puasa yang bukan hanya memberikan kesempatan bertemu teman-teman, tapi juga bisa merasakan vibes-nya Ramadan dan melihat langsung bagaimana mereka menjalankan puasa, bagaimana mereka berbuka, cara mereka memilih makanan berbuka hingga makanan berat yang akan disantap setelah seharian berpuasa.
Detail-detail kecil yang sering sekali saya perhatiin dan membuat saya belajar banyak hal termasuk bagaimana cara yang tepat berbuka puasa.
Dulu saya pikir puasa itu soal agama. Di agama saya ada sih bahasan soal Tuhan Yesus yang berpuasa 40 hari lamanya. Tapi tidak ada kewajiban untuk melakukan itu. Pun, lingkungan tempat tinggal saya juga Kristen semua, tidak ada Islam, Hindu, Budha dan Konghucu.
Jadi kalau mau jujur, adaptasi saya dengan kehidupan perbedaan ini dimulai setelah duduk di bangku kuliah dan banyak hal yang harus saya adjust.
Seiring berjalannya waktu dan menuanya tubuh, saya baru paham, puasa bukan cuma soal satu agama. Agama lain juga sangat bisa menerapkan ini untuk kesehatan. Kalau mau cek kesehatan, harus puasa juga toh? Nah, paling sederhananya itu.
Momen Salah Kostum di Tengah Gamis, Jubbas dan Koko Kurta
![]() |
| Momen bukber dengan teman-teman Kreator |
Dua pekan lalu, saya mendapatkan undangan review restoran di salah satu hotel bintang 3 di bilangan Senen, Jakarta, namanya Gren Alia Hotel Jakarta, dengan nama restonya Rumarasa Restaurant.
Letaknya persis di depan Halte Kwitang. Kamu bisa mengakses hotel ini dengan Transjakarta, Jaklingko, berjalan kaki dari stasiun Gondangdia, atau menggunakan ojek online.
Sebelum lebih jauh, saya ingin sampaikan bahwa tulisan ini bukan tentang makanan, melainkan apreasiasi ruang aman merayakan perbedaan dari sebuah industri.
Sama seperti undangan berbuka puasa lainnya, biasanya saya menggunakan pakaian yang lebih tertutup. Sebetulnya hari itu juga masih cukup tertutup sih, hanya saja saya memilih menggunakan skinny jeans dan kemeja hitam lengan pendek.
Saya punya alasan soal pemilihan pakaian ini. Yang pertama undangan ini sebetulnya bertujuan untuk memperkenalkan restoran hotel in normal season yang shoot-nya dilakukan pas Iftar. Jadi alih-alih memilih pakaian iftar, saya menggunakan pakaian di hari itu untuk menyesuaikan ke tema konten yang akan kami hasilkan.
Alasan lainnya adalah, saya undangan +1 - yang juga punya niat untuk membuat konten - teman saya yang merupakan Kreator Konten undangan mereka. Maka jadilah hari itu saya datang dengan pakaian yang lebih chill untuk mendukung produksi konten teman saya.
Karena alasan ini pulalah saya hadir tanpa melakukan riset terlebih dahulu apa tentang hotel yang akan kami kunjungi.
Sesampainya di sana, saya baru tahu bahwa ternyata Gren Alia Hotel rupanya menerapkan konsep syariah yang mengharuskan kepada setiap pasangan berstatus menikah.
Yang lainnya adalah, bahwa hotel ini ternyata telah mengantongi HALAL CERTIFIED. Sebagai anak Teknologi Pangan, soal pemenuhan halal bagi sebuah industri memang cukup krusial dan bahkan dianjurkan jika belum memiliki.
![]() |
| Area Rumarasa Restaurant | Foto: Dokpri - Tambah Seporsi |
Halal bukan sekadar urusan agama, hukum dan bahan makanan yang terkandung di dalam sebuah panganan. Lebih jauh, seritifikasi ini merupakan sebuah bentuk perlindungan seluruh pihak yang saling terkoneksi.
Bagi industri, sertifikasi ini bisa menjangkau pasar yang lebih luas dan mendapat kepercayaan dari pelanggan. Pelanggan pun mendapatkan keamanan dan kenyamanan selama proses mengonsumsi makanan tersebut. Keduanya saling terjaga.
Balik lagi soal hotel. Perpaduan syariah dan HALAL CERTIFIED yang dimiliki hotel rasanya jadi duo combo merangkul teman-teman Umat Islam untuk hadir ke tempat ini, entah untuk staycation bersama keluarga, urusan bisnis atau sekadar menikmati makanan di restorannya.
Kami tiba memang sedikit lebih cepat dari jadwal yang telah diberikan. Pertimbangan kami kala itu adalah untuk mendapatkan keleluasaan saat mengambil footage video.
Vibes Ramadannya kuat sekali di sana. Frontliner yang bertugas juga memberikan kesan Muslim yang cukup kuat namun tetap bersahabat. Saat itulah saya ngeh bahwa saya saltum alias salah kostum.
Seiring bergulirnya waktu, pengunjung mulai berdatangan. Satu per satu bangku yang tersedia di sana mulai terisi.
Mereka datang dengan berpakaian gamis cantik bagi para perempuan, jubbas - jubah panjang hingga mata kaki yang dikenakan pria Muslim - dan beberapa laki-laki lain menggunakan atasan koko kurta.
Jadilah saya sendiri berada di antara mereka, di tengah-tengah gamis, jubbas dan koko kurta, dengan lengan baju yang terbilang pendek, dan skinny jeans yang ngepres.
Saya pikir kalau-kalaupun ini diusir, ya sudah pulang saja. Jujur, jiper juga.
Tapi saya yakin hari itu, Tuhan dan Allah bekerjasama untuk menjaga saya dari rasa malu. Tak lama kemudian, beberapa tamu hadir dengan pakaian yang lebih mini. Di sisi lain saya sedikit gamang, tapi di sisi berbeda saya cukup tenang karena kalau sewaktu-waktu diusir, saya sudah ada teman.
Lebih tenang lagi ketika beberapa orang tamu laki-laki hadir dengan kemeja biasa. Makin tenang rasanya. Tidak semua hadir dengan tampilan begitu tertutup. Keyakinan 'ada teman' makin merangsek ke dalam hati. Hahaha
Buka Puasa Bersama di Gren Alia Hotel, Senen, Ruang Aman Merayakan Perbedaan
Waktu terus mengalir. Adzan maghrib terdengar nyaring di langit sore Jakarta Pusat. Satu per satu pengunjung sudah mulai antri mengambil makanan yang mereka butuhkan. Begitupun saya dan beberapa kreator yang hadir di sana.
Makanan pembuka, makanan utama dan pencuci mulut, semua sudah saya lahap dengan nikmat. Kami makan dengan nyaman sambil bercengkerama. Sesekali kami menikmati tawa di tengah-tengah makan sembari berdiskusi ringan seputar produksi konten yang barangkali bisa melengkapi pengetahuan Kreator yang lain.
Saya sampai lupa akan kekhawatiran soal pakaian berlengan pendek dan jeans yang saya kenakan ini. Kekhawatiran akan dianggap tidak sopan. Rupanya kekhawatiran itu hanya di dalam benak saja. Hotel Gren Alia Jakarta nyatanya menjadi ruang aman bagi saya dan pengunjung lainnya untuk merayakan perbedaan.
Meskipun ruangan di Restoran Rumarasa didominasi teman-teman Umat Islam yang sedang berbuka puasa, suasana berjalan nikmat dan saling hormat.
Perkara baju doang, ngga gitu-gitu amat kali, Mba!
Well, kalau teman-teman bukan minoritas, sulit menjelaskan posisinya. Saya pernah dapat teguran karena hal yang sama di Masjid Sunan Ampel. Untuk urusan ini, demi apapun saya sepenuhnya tidak mengetahui aturan yang berlangsung di sana karena datangnya pun dadakan, lalu kejadian itu sebetulnya adalah sebuah ketidaksengajaan dan saya merasa sangat tidak enak hati membuat mereka marah.
Dua tahun kenangan kurang baik ini bertahan di memori saya, kenangan yang sangat tidak nyaman untuk diingat dan dikenang. Saya kepikiran terus karena merasa bersalah pada bapak tua yang menegur saya saat itu.
Dua tahun kemudian, ketika ada kesempatan, saya kembali ke sana dan mengulang perjalanan dengan persiapan pakaian yang lebih matang untuk menghapus rasa bersalah di dalam hati saya. Leganya bukan main.
Cape-cape memperbaiki ke Surabaya, eh, di Lirboyo, Kediri, kena lagi karena masalah yang sama. Warga laki-laki yang saat itu mau berangkat sholat ke masjid sampai harus menunduk, beberapa ada yang masuk kembali ke rumah karena saya melintas hanya menggunakan kaos bolong yang berkeringat karena baru saja menuntaskan lari 10Km di Kota Tahu itu dan celana olahraga - untungnya yang longgar -
Kalau ini pure karena teman dan saya benar-benar dongkol dipermalukan sepanjang melintas di pondok pesantren tertua di Indonesia itu. Mana ngga minta maaf.
Padahal sebelumnya saya sudah sampaikan agar meninggalkan kunci kamar di receptionist, tapi ternyata tidak dilakukan. Atau punya pertimbangan lain kenapa hal itu tidak dilakukan? Kurang tahu juga.
Jadi soal pakaian dan perbedaan, saya awas banget soal ini teman-teman. Hahaha.
That's why ketika sebuah tempat menyediakan ruang aman dan nyaman atas perbedaan, saya senang bukan main. So, from the deepest of my heart, thank you, Gren Alia, Jakarta untuk kenangan baik yang boleh saya bawa pulang malam hari itu.




Komentar
Posting Komentar